Marketing, sebuah Ilustrasi









Kehidupan kita tidak pernah terlepas dari proses jual beli, sejak kita bangun dari tidur apa yang kita nikmati itu semua berada disekitar kita karena satu hal Jual Beli. Coba kita lihat tempat tidur yang kita pakai, kain sprei, bantal guling dan sarungnya, sabun, pasta gigi, handuk bahkan jendela dan pintu rumah kita berasal dari proses Jual Beli. Tetapi coba kita lihat dan tanya kebanyakan orang tua, berapa banyak diantara mereka yang menginginkan anaknya menekuni profesi marketing, profesi yang memang inti pekerjaanya adalah penjual.

Ketika seseorang meningkat Dewasa kemudian tiba masanya dia berumah tangga, saat itu ia harus bertanggung jawab sepenuh nya kepada diri sendiri dan keluarganya. Terlepas dari tanggung jawab orang tua sepenuhnya terutama secara materi. Maka disitu pula mulai langkah awal bagaimana setiap orang dituntut untuk survive berjuang mempertahankan kehidupan. Awal rumah tangga yang manis berkelanjutan, tidak selamanya indah. Sering diperjalanannya timbul goncangan2 ibarat biduk yang sedang berlayar dilautan terombang ambing diterpa badai. Seringkali badai datang disebabkan masalah financial.

Jika masalhnya financial maka mulailah digunakan berbagai cara untuk mencari alternatif menambah penghasilan. Dalam waktu singkat mulai lah muncul tenaga2 marketing dadakan. Ibu2 yang biasanya aman tentram di dapur, tiba2 berubah jadi penjual2 ulung yang tanpa malu2 keluar masuk rumah menawarkan berbagai jenis dagangan dari mulai makanan, pakaian dsb.

Dalam keadaan terjepit ternyata pikiran semua orang sama "JUALAN" apa aja dijual dari mulai yang serba bekas sampai segala hal yang serba baru.
Lalu kenapa yang muda merasa malu atau gengsi untuk belajar jadi marketing, atau penjual.... ? simak lah bagaimana pandangan mereka ada yang bilang " Ih ngapain kerja disitu cuma jadi sales". atau "minta kerjaan dong tapi jangan jadi marketing". Kalau ditanya kenapa jawabnya " Saya nggak bisa ngomong kan marketing harus pinter ngomong". Atau " kalau jualan ga tau harus menawarkan kemana". Kenapa harus menunggu kejepit baru belajar? padahal menjadi marketing yang tangguh butuh waktu, menjadi pintar bicara butuh proses. Marketing yang tangguh berarti juga negosiator yang ulung yang bisa membaca arah pasar dan peka dalam membaca keinginan konsumen.

Indonesia sangat membutuhkan tenaga negosiator2 ulung di tingkat internasional. Terutama dalam menghadapi negara2 maju yang jauh melangkah lebih dulu. Kenapa Marketing tidak dijadikan sebuah universitas bagi para calon negosiator. Lihat para pengusaha besar mereka semua mengawali kesuksessannya dari menjadi penjual, kelihaiannya sampai bisa menjadi sesuatu bermula dari hal yang paling sederhana "JUALAN".

Cara belajar yang paling sederhana adalah melihat cara para pedagang pasar tradisional mempersiapkan diri sebelum mereka berdagang. Dagangan banyak tapi seluruhnya harus terjual dalam waktu singkat. Jam pasar tradisionil pada umumnya buka sejak jam 06.00 pagi dan berakhir pada jam 11.00. Walaupun demikian lihat bagaimana mereka mempersiapkan dagangannya. Pedangang Sayur umumnya sudah sejak jam 1.00 tengah malam berdatangan dengan sayur2annya bahkan ada yang sudah mulai sejak jam 4 sore satu hari sebelumnya dagangan mereka dipersiapkan. Para toko sembako sudah mulai sibuk membungkus gula, tepung dll sejak jam 4 sore, esok nya jam 5 Pagi sudah mulai buka toko. Jam 6 pagi pembeli mulai berdatangan paling ramai mulai jam 7-10 para pedagang pasar dikerubuti pembeli.

Pedagang pasar tradisional yang umumnya berpendidikan hanya sampai sekolah menengah paling tinggi bisa kaya raya dan pergi haji bolak balik kenapa yang berpendidikan tinggi tidak. Konsep kerjanya tetap pada prinsip Manajemen yaitu merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, dan tidak juga melupakan faktor yang tidak kalah penting yaitu pengawasan.

Dalam waktu 3 jam sebuah toko sembako harus mampu melayani begitu banyak pengunjung dengan cepat tepat dalam memberi barang dan menghitung uang, sejak malam hari tukang sayur menyusun lebih dari dua puluh jenis sayuran dalam kiosnya. Toko sembako sejak sore sudah mulai menimbang-nimbang terigu gula pasir minyak goreng dalam berbagai ukuran, kemudian meletakkan nya di tempat2 tertentu yang mudah dijangkau sesuai dengan kebanyakan kebutuhan orang setiap hari barang apa yang paling banyak dicari pembeli setiap hari. Mereka semua bekerja lebih dari 8 jam sehari.

Dengan kata lain menjual bukan sekedar menjual artinya bukan sekedar ada barang terus teriak-teriak memanggil pembeli agar membeli dagangan kita. Tetapi keberhasilan seorang penjual harus dimulai dengan sebuah persiapan. Sukses tidak begitu saja datang, tetapi sukses akan datang kepada kita jika kita mau berusaha mempersiapkan diri kita menuju sukses. Termasuk sukses dalam menjual sebagai marketing.

Komentar